Atya Sudah Besar
Halo Bentoelisers,
“Aku berangkat dulu Jeng.” Pamit Mas Ben kepada isterinya, sambil menggamit tas dan menyelempangkan ke bahunya.
Diciumnya pipi dan kening isterinya.
Jeng Arum merapihkan posisi baju bagian depan suaminya. “Perutnya udah mancung, bajunya jangan dimasukkan terlalu ketat, dikendorkan sedikit bagian depannya, biar rapih dilihatnya.”
“Ayo Atya salim sama Bapak.” Mas Ben mengulurkan tangannya kepada putranya yang tengah asyik dengan motor mininya.
“Ayo Atya, bocah bagus. Salim sama Bapak dong.” Kata Jeng Arum sambil meraih tangan si kecil Atya mengarahkannya ke tangan Mas Ben.
“Lho koq ndak mau, gimana to. Bagusnya kurang kalau begitu.”
“Ya sudah kalau ndak mau salim, berarti disun saja ya.” Mas Ben berjongkok dan mencium putranya yang semakin menggemaskan saja itu.
“Hati-hati Mas, jangan diajak pulang masalah dari pabrik.” Jeng Arum mengiringi Mas Ben hingga pintu pagar, sambil mendorong motor mini dengan Gus Atya di atasnya bergaya pembalap hebat.
“Da da Bapak.” Jeng Arum melambai-lambaikan tangan kecil Gus Atya.
“Daaaagggghh Atya, ndak boleh nakal di rumah ya.”
—
Membayangkan betapa suka dan asyiknya Gus Atya bermain dengan motor mininya, menghadirkan kesejukan hati Mas Ben dan Jeng Arum. Terungkap kesyukuran atas karunia rejeki atas keluarga mereka, terutama berkah besar atas hadirnya Gus Atya di antara mereka.
Terlukis di ruang benaknya, betapa riangnya Gus Atya ketika diajak ke sebuah pusat perbelanjaan. Dia berontak turun dari gendongan ibunya, berlari kesana-sini dengan kaki kecilnya diikuti ibunya yang tampak kepayahan tidak selincah putranya.
“Mas Ben, itu ada motor-motoran sedang diskon. Kita belikan Atya ya.” Ujar Jeng Arum yang dibalas dengan anggukan Mas Ben.
“Ayo Atya, mau motor-motoran yang mana ?” Jeng Arum menggandeng tangan putranya.
Gus Atya yang sedang asyik berlari-lari kecil tampak girang dalam gandengan ibunya, seolah mengetahui hendak beroleh hadiah mainan baru dari orang tuanya.
“Eh Atya, ndah boleh ditarik-tarik, nanti sobek plastiknya.” Mas Ben merangkul dan menggendong Atya, yang antusias meraih beberapa mainan. Tampak suka sekali dia.
Akhirnya terpilih sebuah motor mini berwarna hijau daun pisang muda.
Gus Atya langsung merebutnya dari genggaman bapaknya.
“Eh, nanti Atya. Dititipkan dulu ke Mbaknya ya, kita mau masuk dulu beli hadiah buat simbah.” Bujuk Jeng Arum sambil melepaskan tangan Atya dari motor-motoran barunya.
Mereka bertiga memasuki toko besar itu. Gus Atya sudah melupakan motor-motorannya. Dia kembali ke sana-kemari diantara bebajuan yang tergantung rapih. Kembali Jeng Arum dibuatnya kelabakan “menjinakkan” kelincahan putranya itu.
Memang Mas Ben dan jeng Arum berencana mencicil dari awal belanja untuk lebaran nanti, membelikan hadiah untuk orang tua mereka di kampung. Satu hal yang baru diketahui setelah menikah oleh Mas Ben [selama masa pacaran Mas Ben belum tahu], adalah kelihaian Jeng Arum dalam mengelola rejeki mereka. Jeng Arum selalu mampu menyisihkan sebagian dari gaji Mas Ben untuk estimasi kebutuhan jangka panjang. Mulai dari untuk keperluan diweselkan ke orang tua mereka, juga termasuk untuk anggaran selama libur lebaran dan segala keperluannya, hingga kepada keperluan untuk Tuhan yang akan diserahkan kepada rumah ibadah setiap tahunnya.
Mas Ben juga sempat dibuat kaget dan takjub ketika Jeng Arum menyampaikan rencana membeli sawah di kampung.
“Lho, apa kita punya tabungan cukup Jeng ? Kita juga harus punya cadangan untuk sekolah Atya, sekarang Atya sudah mulai besar lho.”
“Ya Mas, kata Bapak di kampung ada orang perlu uang. Dia mau jual sawahnya ke Bapak, dan Bapak menawarkan ke saya apa kita mau. Itu juga bukan kita semua yang beli kok Mas, uang kita cuma cukup buat sepetak saja. Jadi yang 2 petak itu Bapak yang beli.”
“Kalau Mas Ben kasih ijin, sawah itu nanti Bapak dan Ibu yang garap. Hasil dari bagian sawah kita disimpan untuk keperluan sekolah Atya.”
Mas Ben manggut-manggut.
“Ya sudah, boleh asal tidak menjadi kerepotan Jeng Arum menata rejeki kita.
Mas Ben benar-benar sukacita hatinya, atas berkah besar yang telah dipercayakan oleh Tuhan, yaitu sebuah cinta dalam keluarga.
Tiada kebahagiaan terbesar bagi seorang pria selain menjadi pendamping dari seorang isteri yang berbakti dan seorang putra yang manis.
Hanya satu pinta kami ya Tuhan, ijinkan kami untuk menjadi saksi pertumbuhan baik putra kami yang Kau titipkan pengasuhannya kepada kami, dan mengalami kesuksesannya dalam pelayanan kepadaMu dan keluarganya kelak dalam restu kami dan restuMu ya Tuhan. Amin.
Salam bentoelisan
Mas Ben
Kekagumanku
Halo Bentoelisers,
… dari dalam buih-buih putih mendidih muncullah wajah, lalu sosok seorang gadis berkuncup-kuncup harapan; basah kuyup, rambut panjang sebagian terurai tak keruan dari ikatan; tertawa bahagia karena baru saja ter-kapyuk serombongan riak-riak nakal. Nyaris gadis itu jatuh tak mampu menahan dekapan kurang ajar ombak-ombak.
Si Duyung, begitu panggilan sayang orang-orang kampung untuk si dara itu. Dan memang, bila perahu pulang penuh bakul ikan-ikan perak yang mengilau di cahaya matahari pagi, dan orang-orang di darat melihat si perawan remaja itu gesit ikut mengayuh dalam kainnya yang serba basah, bahkan sering pucuk kain setengah lepas [dan nun kala itu, dada sehat masih dibiarkan merayakan kemerdekaan], kesan putri duyung harus diakui sungguh ada.
Gugusan kata-kata “nakal” namun kental makna sastrawi di atas mengalir lembut dari ruang batin seorang YB Mangunwijaya, yang terangkai apik mengawali novel triloginya – Rara Mendut.
Mas Ben menyelipkan karton penyekat penanda lembaran terakhir terbaca olehnya. Diletakkannya buku setebal 799 halaman yang baru dibacanya beberapa lembar itu di sebelahnya. Kedua tangannya bertangkup ditarik ke atas seiring kedua kakinya terdorong.
“Istirahat mbaca Mas ?” Tanya Jeng Arum, istrinya yang tiba-tiba sudah di sampingnya menyuguhkan teh hangat manis kesukaannya.
“Iya, sedang merenungkan makna kata-katanya. Berat ternyata.”
“Oalah Mas, baru selesai se-bab to ?”
Jeng Arum meraih buku itu dan melanjutkan pembacaannya yang sudah lebih setengahnya.
“Mau kemana Mas ? Wong ditemani, kok malah ninggal.” Kata Jeng Arum, melihat suaminya bangkit menuju kamar.
“Mau menuliskan kisah Romo Mangun, Jeng. Mumpung saya lagi mood dan terinspirasi tentang beliau.” Jawab Mas Ben menyibak kain gordin kamar, sambil sudah menjinjing notebooknya.
Jeng Arum dilihatnya sudah asyik dengan kegiatan bacanya.
—
Sudah sejak lama Mas Ben mengagumi Romo Mangun. Banyak hal dan talenta menyertai perjalanan hidup dan karya pelayanan Beliau yang menjadikan Mas Ben terobsesi untuk dapat setidaknya tertular sedikit dari kelebihan Romo Mangun.
Romo Mangun lahir di Ambarawa – Jawa Tengah pada tanggal 6 Mei 1929 dengan nama Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dari orang tuanya Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.
Mengawali pendidikannya di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936 – 1943). Lalu berturut-turut di STM Jetis, Yogyakarta (1943 – 1947), dan SMU-B Santo Albertus, Malang (1948 – 1951). Pendidikan seminari pada Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta, yang dilanjutkan ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang.
Karir karya pelayanan Beliau dimulai pada tahun 1959. Beliau ditahbiskan sebagai Imam oleh Uskup A Soegijapranata SJ, yang juga mentor beliau. Romo Mangun pertama kali bertemu Romo A Soegijapranata ketika menuntut ilmu di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru.
Namun demikian, cita-cita sejak lama untuk menjadi insinyur tidaklah hilang. Itulah sebabnya, setelah ditahbiskan, atas amanat dari gereja, Beliau melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur ITB, pada tahun 1959. Dari ITB, melanjutkan studi di universitas Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada 1960, yang diselesaikannya pada tahun 1966. Pendidikan arsitektur inilah yang kemudian memberinya landasan yang kuat untuk menghasilkan beragam karya arsitektural yang justru menghadirkan nuansa baru dalam arsitektur Indonesia. Tidak heran pula bila Romo Mangun kemudian dikenal sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Sebut saja kompleks peziarahan Sendangsono, Gedung Keuskupan Agung Semarang, Bentara Budaya Jakarta, termasuk beberapa gereja. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pun menganugerahkan kepada Beliau IAI Awards 1991 dan 1993 sebagai penghargaan atas beberapa karyanya.
Adapun karya arsitektural di Kali Code menjadi menjadi salah satu “monumen” Romo Mangun. Beliau membangun kawasan pemukiman warga pinggiran itu tidak sebatas pembangunan fisik, tapi sampai pada fase memanusiakan manusia. “Penataan lebih pada segi sosio-politis dan pengelolaan kemasyarakatan,” demikian tutur Romo Mangun, yang dikenal juga sebagai bapak dari masyarakat “Girli” (pinggir kali) mengenai “monumen”-nya tersebut. Penataan lingkungan di Kali Code itu pun membuahkan The Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992. Tiga tahun kemudian, karya yang sama ini membuahkan penghargaan dari Stockholm, Swedia, The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award untuk kategori arsitektur demi rakyat yang tak diperhatikan.
Aga Khan Award yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang Arsitektur diraih untuk konsep penataan lingkungan di Kali Code, Yogyakarta. Pendidikan di bidang Humanistic Studies yang diselesaikan Romo Mangun pada tahun 1978 di Colorado nampaknya makin membuat Beliau menjadi seorang Humanis. Konsep penataan lingkungan ini merupakan proyek peremajaan lingkungan kumuh yang sangat manusiawi. Romo Mangun tidak hanya membuat konsep tersebut. “Rumah Mangun” juga didirikan di lingkungan tersebut, di samping kediaman para pemulung sampah, tukang becak, anak-anak penyemir sepatu dan “wong cilik” lainnya. Rumah panggung yang berdinding gedhek ini tidak pernah sepi dari pengunjung.
Romo Mangun memang mengalami berkat berlebih dari Tuhan, beliau terlahir sebagai seorang yang multi-talent; rohaniwan, arsitek, budayawan, sastrawan dan pendidik yang humanis sekaligus.
Sikap kritis dalam berbudaya, bukan hanya melulu bersumber pada budaya tradisional dan budaya masa lalu. Tetapi juga budaya kontemporer masa kini. Dalam hal ini, Romo Mangun memfokuskan pada sesuatu yang juga Beliau kenal dengan baik, budaya teknologi modern. Walau seorang insinyur, Romo Mangun tidak terhanyut dalam pemikiran dan spesifikasi teknis dari ketrampilannya tersebut, tetapi mencoba untuk merefleksikannya sebagai bagian dari gema budaya manusia. Tulisan-tulisan Beliau mengajak untuk melihat bagaimana budaya masa kini bisa menjadi hambatan dalam memanusiakan manusia, dan mengajak kita untuk bersikap kritis, bukan hanya sebagai penerima budaya teknik secara pasif, tetapi bersikap sebagai aktor dalam perjalanan budaya masa depan, seorang aktor dalam membentuk budaya yang semakin menghargai kemanusiaan.
Romo Mangun dikenal sangat dekat dengan semua golongan agama. Perbedaan agama bagi Beliau bukan suatu persoalan yang besar. “Bagi saya yang nomor satu bukan agama, melainkan iman dan takwa. Banyak orang yang beragama tapi tidak beriman,” ungkap Romo Mangun dalam berbagai kesempatan. Sikap toleransi ini dibuktikan nyata dengan pembelaan beliau Pada tahun 1986, ketika mendampingi warga Kedungombo yang kala itu memperjuangkan lahannya dari pembangunan waduk. Pembelaannya kepada nasib penduduk Kedungombo menyebabkan Beliau dituduh sedang melakukan kegiatan Kristenisasi. Meski demikian tidak menyurutkan semangat kemanusiaan Beliau. Hingga perjuangan keras itu berbuah manis ketika pada tanggal 5 Juli 1994, akhirnya Mahkamah Agung RI mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga Kedungombo. Malahan warga memperoleh ganti rugi yang nilainya lebih besar daripada tuntutan semula.
Dalam bidang kesusastraan, buah tangannya tidak dimungkiri pula. Sebut saja “Burung-Burung Manyar” (1981) yang memperoleh penghargaan dari Ratu Thailand Sirikit lewat ajang The South East Asia Write Award 1983. Beliau juga menjadi orang Indonesia kedua setelah Goenawan Mohammad yang mendapat penghargaan The Professor Teeuw Award di Leiden, Belanda, untuk bidang susastra dan kepedulian terhadap masyarakat.
Dalam dunia sastra, novel-novel karya Romo Mangun banyak memberikan kepada pembacanya kesempatan untuk menikmati kompleksitas persoalan dan seni menuliskannya. Bukan hanya politik sebagai muatan sastra yang penting, tetapi juga sejarah, relijiusitas, ketegangan.
Melalui novel sebagai corong refleksi pemikiran dan perasaan, Romo Mangun mengajak semua orang untuk menaruh keprihatinan mengenai wujud masyarakat Indonesia; hubungan antar sesama manusia, hubungan dengan masyarakat dan bagaimana hidup yang bertolak dan berdasar pada nilai.
Karya tulis yang dihasilkan Romo Mangun bukanlah karya tulis sembarangan. Semua dihadirkan dengan alam pikir yang kompleks. Hal ini terwujud pula dari kalimatnya yang panjang-panjang, yang tak jarang sulit dipahami. Namun, Beliau berkata, “Tulisan saya realitas. Realitas itu kompleks, tidak sederhana, tidak satu dimensi, canggih, rumit, dan banyak segi. Kalimat mestinya begitu juga.
Tidak hanya dalam bidang arsitektur dan penulisan, Romo Mangun pun memiliki keprihatinan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Beliau mewujudkannya dengan mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Catherine Mills, yang menulis tesis mengenai Romo Mangun, mengutip perkataan Romo, “When I die, let me die as a primary school teacher (kalau saya meninggal, biarkan saya meninggal sebagai guru sekolah dasar).” Bagi Romo Mangun, pendidikan dasar jauh lebih penting daripada pendidikan tinggi. Itulah sebabnya, Beliau pun pernah berujar, “Biarlah pendidikan tinggi berengsek dan awut-awutan. Namun, kita tidak boleh menelantarkan pendidikan dasar.”
Tentang pendidikan dasar kepada anak-anak soal bagaimana mengamalkan rasa syukur, diteladankan dengan nyata oleh Beliau, ketika bersama anak-anak didiknya sedang merayakan ulang tahun salah seorang anak, Romo melihat bahwa anak-anak kecil tersebut tidak sanggup menghabiskan makanannya. Akhirnya, Romo mengumpulkan sisa makanan tersebut menjadi satu dan memakannya agar tidak ada yang terbuang.
Hingga bahwa tidak ada pengembaraan yang tidak bertemu pada akhirnya.
Pada tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun menghadiri Simposiom “Meningkatkan Buku Dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia”, yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia, di Hotel Le Meridien, Jakarta. Beliau juga berperan sebagai pembicara pada simposium tersebut, namun belum lama, badannya limbung, nyaris jatuh. Budayawan Mohamad Sobary langsung membaringkannya di lantai Ruang Puri. Dan tepat pukul 13:55 WIB, Romo Mangun dinyatakan meninggal karena serangan jantung.
Pemakaman Beliau dihadiri oleh ribuan pelayat. Hal ini menunjukkan betapa Romo Mangun merupakan pribadi yang sangat dikagumi sekaligus dihormati masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan rohaniawan dan penganut Katolik atau masyarakat Yogyakarta, berbagai lapisan masyarakat dan agama turut menghadiri.
Ya, Sang Pengembara bersahaja itu kini sudah berpulang ke Bapa-nya. Namun karya kasih dan karya nyata sosio-humanisnya akan selalu dikenang.
Tongkat estafet telah digulirkan, tinggal adakah kerelaan hati untuk melanjutkan karya kasih yang diteladankannya ?
Mas Ben menutup note-booknya. Diraihnya teh hangat manis yang sudah mulai dingin buatan isterinya, dan direguknya dengan lembut.
Salam bentoelisan
Mas Ben
[Disarikan dari : http://www.christianpost.co.id, http://www.sabda.org, http://www.socineer.com]
Solo Antara Kultur dan Modernisasi Dalam Gelaran Internasional [Kisah Perjalanan 2 hari Mas Ben di Solo]
Halo Bentoeliser
Solo atau dulu dikenal dengan nama Surakarta, sebuah kota karesidenan yang masih kental nilai budaya keningratannya, mulai menggeliat menunjukkan kiprahnya di tataran internasional.
Solo [Surakarta] dengan demografi melingkupi wilayah Kartasura, Solo Baru, Palur, Colomadu, Baki, Ngemplak; didukung oleh enam kabupaten di sekitarnya : Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri semakin eksis menjelma sebagai sebuah wilayah terpadu Soloraya.
Wilayah pecahan kejayaan Mataram ini dalam perkembangannya berlaju seiring dinamika kemajuan teknologi dan modernisasi, berusaha mempertahankan kultur adiluhungnya. Kuliner, tata-pergaulan dan eknisitas yang terpelihara baik tetap membudaya tercermin dari perilaku keseharian warganya.
Kebersahajaan jawa sebagaimana diwariskan oleh pendahulunya, begitu kental terukir di setiap sisi kotanya. Hidup yang tidak ngoyo dan senantiasa andap asor, terlepas dari sedikit masalah sosialnya, yang dengan ketulusan timur diakui oleh walikota Solo, Bp. Joko Widodo.
Semua hal di atas terurai dalam acara SOlO [Sharing Online lan Ofline] yang digagas, dibidani dan dikawal dengan apik oleh para anak muda komunitas blogger Bengawan.
Acara yang dipusatkan di Graha Solo Raya Jl. Slamet Riyadi, dihadiri oleh para blogger wakil dari beberapa daerah di Indonesia wilayah barat, tengah dan timur ini sukses digelar selama 2 hari pada tanggal 5 dan 6 Juni 2010.
Sesuai dengan namanya sharing online dan ofline, keseluruhan agenda acara SOlO sengaja dirancang sebagai mediasi dan sarana komunikasi positif antara para blogger yang diharapkan menjadi jembatan tersosialisasikannya kota Solo dan tentu saja program-program sukses pemerintah kotanya dalam mengelola rumah tangganya.
Sejarah asal nama Solo, dan segala prestasi kota Solo disampaikan oleh Kadiskominfo kota Solo. Salah satunya adalah keberhasilan kota Solo dalam mengelola PKL, yang diklaim sebagai yang pertama dan satu-satunya kota di Indonesia berhasil merelokasi PKL dengan pendekatan humanis, yang oleh Ibu Kadis dikatakan sebagai kegiatan yang mengwongkan wong atau memanusiakan orang.
Dalam program prioritasnya, walikota menyusun suatu konsep yang komprehensif untuk menata PKL dimulai dengan merevitalisasi Kantor Pengelolaan Pedagang Kaki Lima [PPKL] sebagai leading agency dalam pelaksanaannya.
Kebijakan utama pengelolaan PKL di kota Solo meliputi pembinaan, penataan, dan penertiban. Pembinaan mengasumsikan bahwa bisnis dan karakter PKL perlu dibangun dan dikembangkan dengan memberi mereka bimbingan dan penyuluhan, termasuk informasi tentang peraturan dan tanggung jawab PKL dalam memelihara ketertiban di kota Solo. Istilah penataan berarti mengelola PKL secara fisik agar mereka lebih rapih teratur. Selain itu ada kebijakan penertiban yang dilakukan pemerintah dalam upaya “memaksa” PKL untuk pindah atau kadang kala merelokasi mereka ke tempat baru. Kebijakan yang dibuat di kantor PPKL sebagian besar disusun secara persuasif dengan melibatkan kelompok-kelompok PKL sendiri. Sebagai hasilnya, keramahan kota Solo terhadap PKL bisa ditunjukkan secara fisik [ruang], secara sosial ekonomi, secara aturan, maupun secara kesempatan.
Pengalaman kota Solo menunjukkan bahwa kebijakan perkotaan yang ramah PKL harus diawali dengan adanya keberpihakan pada nasib rakyat kecil dan pengakuan bahwa PKL adalah nafas dari kehidupan perkotaan yang tidak bisa dihilangkan. Oleh karenanya berbeda dengan kota-kota lain yang bermasalah dengan PKL, kota Solo berhasil merelokasi PKL dengan damai. Untuk memanusiakan PKL, proses relokasi dilakukan dengan cuma-cuma. Para PKL diberikan kios atau lapak gratis termasuk surat ijin usaha sudah difasilitasi oleh pemerintah kota Solo. Tidak selesai sampai di situ, pemerintah kota Solo pun telah memikirkan dukungan fasilitas publik yang memadai seperti jalur pejalan kaki, tempat parkir, penerangan jalan, air bersih, saluran pembuangan dan termasuk juga dibukanya akses jalur menuju lokasi baru dan rambu-rambu yang menunjukkan lokasi baru para PKL.
Semua upaya pemerintah kota Solo berimbas positif terhadap peningkatan penghasilan para pelaku PKL, dari yang sebelumnya hanya berkisar Rp. 400.000,00 kini meningkat menjadi Rp. 800.000,00 – 1.200.000,00.
Helatan SOlO semakin menggugah para blogger yang memenuhi aula Graha Solo Raya, ketika acara bergulir ke sharing kesaksian para blogger yang telah berhasil memberikan kontribusi baik dan terbukakannya peluang usaha berkat kegiatan blog.
Misalnya Mas Bachtiar yang menceritakan bagaimana gerombolan Bundaran Hotel Indonesia [BHI] yang bermula dari kongkow-kongkow kawan-kawan yang sedang berusaha mencari kerja di Jakarta, pada akhirnya berkembang menjadi sebuah kelompok charity yang berhasil membantu pendidikan para anak tidak mampu di Cilacap dengan program pinjam asuh kambing, dan juga gerakan seribu buku yang pada realisasinya jauh melebihi target dengan berhasil mengumpulkan 3.200 buku layak baca. Selain itu sebuah kumpulan yang disebut gerombolan oleh Mas Bachtiar juga telah menjadi sarana informasi kerja dan peluang kerja baru bagi membernya, termasuk penyediaan rumah singgah [kost] untuk kawan atau saudara yang sedang berupaya mencari pekerjaan.
Kesaksian lain dari Mas Ben [Bunyamin] dengan usaha grafikanya yang sudah menjadikannya sebagai seorang wirausahawan melalui blognya.
Juga kisah perintisan Rumah Batik Putra Laweyan.
Tidak kalah membahananya, kesaksian Ibu FE Sujanti, Ketua Jaringan Perempuan Usaha Kecil (Jarpuk) Kota Solo. Ibu Sujanti memaparkan harapannya untuk memajukan para wanita sekaligus aktualisasi bahwa wanita pun juga mampu berbuat besar. Termasuk harapannya untuk standarisasi usaha dan produk. Dengan adanya standarisasi pada sisi kualitas produk pastilah akan berpengaruh bagi pertumbuhan kuliner di kota Solo. Selain itu produk kuliner dari UKM tersebut bisa berkembang masuk ke ritel-ritel yang besar. Masih banyak pelaku UKM kuliner di Solo yang belum menerapkan standardisasi produknya. Ini terlihat dari 180-an UKM kuliner binaan Jarpuk, ternyata baru 20 persen saja yang menerapkan standar SP (Sertifikat Penyuluhan) atau PIRT (Produksi Industri Rumah Tangga).
Menjelang tengah hari, ada kejutan besar buat para blogger dengan hadirnya Bapak Joko Widodo walikota Solo. Kedatangan beliau cukup membuat Mas Gunawan sang moderator menjadi kelabakan mengingat terbatasnya waktu dan di luar rencana. Akhirnya Mas Gunawan “mendaulat” Pak Wali untuk memberikan sambutan beberapa menit saja.
Dengan kesempatan terbatas yang dibatasi oleh Mas Gunawan, Pak Joko Widodo memaparkan tentang kota Solo dan obsesi beliau untuk menjadikan Solo sebagai kota yang di kenal di manca negara, termasuk kegalauannya saat membaca sebuah terbitan majalah yang memberikan “warning” agar berhati-hati bila berkunjung di pasar “X” yang merupakan trade mark kota Solo, karena copetnya banyak sekali.
Kehadiran beliau dengan gesture dan tutur kata yang santun, menggairahkan para blogger yang sebelumnya sudah lemas dan kuyu tanda sudah melewati jam makan siang. Para blogger berebutan untuk mengajukan pertanyaan kepada Pak Wali. Akibatnya waktu yang disediakan hanya beberapa menit akhirnya molor menjadi lebih dari setengah jam, ketika Pak Jokowi atas dasar pertanyaan yang ada, menjelaskan program-program pemerintah kota Solo untuk mempromosikannya ke mancanegara yang sudah teragendakan sepanjang tahun 2010, antara lain : Solo Menari, Festival Kuliner, Solo Batik Fashion, The Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development [APMCHUD] yang rencananya akan dihadiri oleh para meneteri dari 68 negara di Asia Pacific, Solo Batik Carnival, Solo International Ethnic Music [SIEM], Festival Keraton Sedunia, Solo International Performing Art [SIPA], dan Solo Keroncong Festival. Semuanya akan digelar selama tahun 2010 antara bulan Juni – September.
Pak Jokowi memungkasi kehadirannya dengan mengimbau agar para blogger mendukung program pemerintah kota Solo dengan kreasi kata dan gambar di blognya masing-masing.
Dan Pak Jokowi pun meninggalkan ruangan dengan iringan tempik sorak membahana.
Selepas ishoma, materi lanjutan hari pertama SOlO diisi oleh Bapak Teddy Bara Iskandar – National Sales Manager XL, dan Area Manager XL wilayah Solo. Beliau memaparkan program-program niaga XL dan segala dukungannya. Tidak lupa bagi-bagi hadiah dadakan untuk para blogger yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar XL. Di akhir acara hari pertama SOlO diinformasikan tentang lomba blog dan atau foto tentang Solo atau Internet, berhadiah blackberry untuk 2 karya terbaik.
Malam harinya, di Wisma Seni tempat beristirahat para blogger, para blogger saling bertukar informasi dan kesan-kesan mereka tentang SOlO dan juga even temu blogger lain yang pernah mereka ikuti, termasuk saran membangun dan harapan di kegiatan sejenis ke depannya.
Dalam suasana penuh kekeluargaan itu disampaikan pula rencana dan koordinasi kegiatan untuk keesokan harinya, yaitu susur bengawan, kunjungan ke kampung batik Laweyan, Kunjungan ke sentra kerajinan keris, wayang dan gamelan dan juga kunjungan ke sentra kerajinan tembaga di Cepogo. Namun karena animo peserta yang lebih banyak untuk susur bengawan, dan kunjungan ke Laweyan, maka acara di Cepogo dan kampung keris, gamelan dan wayang ditiadakan.
Mas Ben yang memilih rombongan ke Laweyan, bisa menyaksikan antusiasme peserta blogger lainnya sejak perjalan hingga di Laweyan. Klak-klik-klek membidik objek-objek bertema Solo yang akan mereka ikut sertakan dalam lomba blog dan atau foto berhadiah blackbery.
Acara di Laweyan dimulai di rumah Batik Putra Laweyan, setelah sedikit pengarahan, para blogger pun beriang-ria memecah kelompok mengikuti para pemandu yang ditunjuk. Di sana para blogger bisa leluasa menyaksikan dan mengagumi keelokan kreasi batik Solo yang halus dan melegenda, termasuk praktek membatik. Pemandangan menarik lainnya adalah berpadunya masa lalu dan kini yang termanifestasikan melalui arsitektur bangunan di perkampungan Laweyan. Banyak bangunan yang sudah berusia ratusan tahun masih berdiri tegak dan terawat di antara bangunan-bangunan moderen, berdampingan harmonis menghasilkan nuansa dramatic romantic.
Aroma tradisional kental menguasai atmosfer gang-gang kecil rapih, ditingkah aktivitas penarik becak moda angkutan rakyat yang tidak lekang digerus modernisasi, dan juga warung jajan angkringan yang manjadi ikon kota Solo.
Selepas sholat Dzuhur, para blogger melanjutkan perjalanan hari itu menuju Taman Balekambang. Di sana sudah menanti grup musik keroncong yang siap menghibur kalbu memanjakan rasa. Rencananya akan turut berpartisipasi adalah cucu Pak Gesang, sang maestro keroncong kita yang belum lama berpulang ke haribaan Sang Khaliq.
Sampai di sini, Mas Ben tidak bisa menemani kawan-kawan blogger menuntaskan rangkaian acara SOlO, dikarenakan sudah harus menuju kota Salatiga untuk selanjutnya kembali ke kota Tangerang, tempat ia tinggal dan berkarya.
Akhirnya, 2 hari di Solo menyisakan kesan indah persaudaraan para blogger yang hadir, melahirkan kerinduan untuk kembali lagi mereguk keramahan dan eksotikanya.
Sampai jumpa lagi para sahabat blogger-ku di ajang temu blogger selanjutnya di kota-kota lain.
Salam bentoelisan
Mas Ben
Bengawan Solo dan Kebangkitan Nasional
Halo Bentoeliser,
Jenazah sang legendaris keroncong asal Solo diberangkatkan dari rumah duka sekitar pukul 10.00 WIB menuju Pendapi Gede Pemerintah Kota Surakarta untuk disemayangkan. Ratusan siswa, para seniman, dan warga Kota Solo yang berdiri di sepanjang Jalan MT Haryono memberikan penghormatan terakhir almarhum dengan cara mengalunkan lagu Bengawan Solo saat jenazah diberangkatkan. Alunan lagu Bengawan Solo diiringi musik keroncong yang dimainkan para seniman Solo itu, membuat para takziah mengingat kebesaran sang pencipta lagu tersebut. [Antara News, Jumat, 21 Mei 2010 15:54 WIB]
Lagu Bengawan Solo, salah satu masterpiece karya budaya nasional tidak bisa dipisahkan dengan sosok Gesang Martohartono. Lagu dengan lirik sederhana yang terlahir pada tahun 1940 berkat rasa kagum atas keilahian dari seorang Gesang muda yang saat itu berusia 23 tahun, ketika ia sedang duduk di tepi sungai Bengawan Solo.
Tak dinyana berkat kesederhanaan lirik dan nadanya, justeru menjadikan lagu Bengawan Solo termasyur bukan hanya di Indonesia saja, namun juga menjadi kebanggan pencintanya di mancangera. Lagu Bengawan Solo juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang. Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang. Dan Setidaknya telah diterjemahkan dalam 13 bahasa
Kaisar Akihito telah menganugerahkan penghragaan tertinggi kepada Gesang tahun 1992. Pada tahun yang sama Presiden Soeharto atas nama bangsa dan Pemerintah RI juga memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma, kepada Gesang.
Kini Gesang, sang maestro itu telah wafat pada usianya menjelang 93 tahun [1 Oktober 1917 - 20 Mei 2010] tepat pada hari Kebangkitan Nasional. Gesang sudah tidak gesang lagi, namun ruhnya akan terus menyawai lagu Bengawan Solo, karya masterpiece-nya yang akan tetap membahana di hati para penggemarnya di seluruh dunia.
Hendaknya wafat Gesang pada hari kebangkitan nasional ini, bisa menjadikan pemicu semangat bagi kita semua untuk membangkitan rasa cinta tanah air dan kepedulian akan warisan karya budaya nasional. Menumbuhsuburkan rasa memiliki dan melestarikan pada setiap sanubari demi negeri ini, dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Kita tentu masih ingat beberapa waktu lalu ada klaim dari warga Belanda yang mengaku sebagai pencipta lagu Bengawan Solo. Sebelumnya kita pun “nyaris” berseteru dengan saudara jiran kita Malaysia, karena klaimnya atas beberapa simbol kebudayaan dan wilayah teritorial kita.
Sudah saatnya bagi kita dengan even seabad Kebangkitan Nasional ini untuk introspeksi nasional, membasuh hati kita membuang segala debu amarah dan onak nafsu menguasai. Hilangkan pertikaian berjubah ketamakan. Kita semua bersaudara, setanah air, berkepentingan sama menuju kemakmuran adil dan merata. Segera usaikan amarah, jangan ada lagi peristiwa amuk seperti di Sumbawa, Mojokerto dan juga banyak terjadi di daerah lain.
Kita bersatu Indonesia jaya makmur sejahtera, sebagaimana citra kita masa lalu. Mari kita kembalikan citra itu.
Bangkitlah Indonesiaku.
Salam bentoelisan
Mas Ben
Ijinkan Kami Menawar TakdirMu
Halo Bentoeliser,
Hari itu, Sabtu 15 Mei 2010 Mas Ben bersama tim dari MetroTV berkesempatan menerima berkat Indah, secara nyata merasakan kehadiran Tuhan di Rumah Kita YKAKI [Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia]. Di sana Mas Ben merayakan kehadiran Tuhan melalui gelak tawa dan keriangan anak-anak yang sedang berjuang melawan penyakit kanker yang mendera mereka.
Raga-raga kecil di rumah itu penuh riang menyambut kehadiran kami, lebih bahagia dari kami yang digelayuti rasa gundah membayangkan wajah-wajah menahan sakit di sepanjang perjalanan kami menuju YKAKI. Anak-anak itu berebutan menyambut tangan kami dan mencium hormat, beberapa ada yang mengulurkan tangan meminta digendong, dan memeluk.
Sejenak kami bercanda ria dengan semua yang ada di dalam rumah itu, termasuk dengan orang tua dan kerabat yang menunggui buah hati mereka selama masa pengobatan.
Acara dimulai dengan pemutaran video sekilas tentang Rumah Kita, yang menarasikan sejarah dan misi pembentukan rumah kita. Ibu Pinta Manulang, ketua yayasan memaparkannya dengan rasa haru. Ya, Rumah Kasih lahir sebagai prasasti abadi bagi buah hati tercinta beliau yang direnggut oleh kanker. Beliau bersama kawan senasib, berinisiatif membantu dan meringankan beban keluarga yang putra-putri mereka mengalami hal sama dialami putera Ibu Pinta.
Berawal dari sebuah rumah petak berkapasitas tampung untuk 5 orang, hingga kini telah berbuah menjadi 2 unit rumah di Jl. Percetakan Negara IX/3 [Rumah Kita 1] danJl. Anggrek Neli Murni Blok A/110, Jakarta Barat [Rumah Kita 2 - dalam proses renovasi] yang masing-masing mampu menampung lebih dari 40 orang. Sengaja dipilih kedua lokasi tersebut dengan pertimbangan mendekati rumah sakit RSCM dan RSPAD Gator Soebroto serta Dharmais. Status kedua rumah itu masih kontrak, dan menjadi impian bagi Ibu Pinta dan pengurus lainnya untuk boleh memiliki rumah itu. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendukung niat mulia itu, salah satunya dengan gerakan mengumpulkan donasi melalui @ksi Rp. 10.000,- di Alfamart, yang sudah dimulai per awal bulan Mei 2010.
Acara dilanjutkan dengan penyampain maksud dan tujuan kunjungan oleh Mbak Andini dari MetroTV, mewakili rombongan yang dihadiri juga oleh Pak Andy F Noya.
Kebahagian berbalut keharuan meruak tatkala anak-anak penderita kanker dengan segenap antusias memperagakan kemahiran mereka menari dan menyanyi. Mereka menari dan bernyanyi seolah tidak ada sakit di tubuh mereka. Sungguh-sunguh Tuhan hadir menunjukkan karya kasihNya pada hari itu di Rumah Kita.
Walau demikian Mas Ben tetap tak kuasa menyembunyikan rasa haru-nya, ketika dia melihat Ziad seorang Anak kecil dari Batam seusia putranya di gendongan ibunya, yang menderita kanker di mata kanannya. Anak itu begitu mirip dengan Gus Atya, putranya. Ziad kecil terkulai lemah di pangkuan ibunya, sesekali dia mengangkat kepalanya melihat ke arah kawan-kawannya yang lebih besar menari dan menyanyi; wajahnya tersenyum kecil menahan sakit seolah ingin berkata, aku juga mau nyanyi dan menari seperti kakak-kakak itu. Mas Ben sempat terseguk ketika bercakap dengan ibu Ziad, “Anak yang manis, Bu. Ziad seusia dan mirip dengan anak saya.” Mas Ben melihat keharuan yang sama menggelayut di mata ibu Ziad.
Selesai makan siang, kami mesti berpisah sementara dengan para penghuni Rumah Kita YKAKI, karena sudah ada acara dan janji lain yang harus digenapi oleh anak-anak manis dan kuat itu.
Mas Ben, kembali menghampiri Ziad dan ibunya, menyalami mereka, berpamitan dan mendoakan untuk kesembuhan Ziad dan anak-anak lainnya.
Sepanjang perjalanan pulang, masih terbayang keceriaan dan terngiang di telinganya nyanyian indah mereka. Samar-samar Mas Ben merasakan doa mereka :
Tuhan terima kasih kami untuk hari ini,
Engkau kirimkan kepada kami kawan,
yang menghibur dan berbahagia menikmati tarian dan nyanyian kami,
Tuhan terima kasih kami atas penguatanMu,
menawarkan sakit di tubuh kami,
hingga kami Kau mampukan menari dan bernyanyi riang,
Memupuskan rasa sedih mereka yang menyayangi kami
Tuhan,
Terimakasih untuk kasih sayang orang tua kami
yang setia menunggu merawat kami
dengan kehadiran mereka di samping kami dan
di dalam doa mereka
Tuhan, dalam kerapuhan kami bermohon
Ijinkan kami untuk merasakan keindahan hari ini
lebih lama dan sering
Iijinkan kami untuk lebih lama meneguk kasihMu
dari mereka semua yang menyayangi kami
Kami masih ingin menari dan bernyanyi
untuk mereka dan bersama mereka semua …
Tuhan, ijinkan kami menawar takdirMu
untuk kami …
Buru-buru Mas Ben menyeka matanya dari bulir-bulir hangat yang hendah tertumpah dari kelopak matanya.
Beberapa penumpang bus menyaksikan, dibalas Mas Ben dengan senyum.
Tiba di rumah, Mas Ben langsung mencari Gus Atya, putranya; menggendongnya, menciumnya dan membisikkan, “Bapak sayang kamu, Nak.”
Salam bentoelisan
Mas Ben
Cita-Citaku dan Cita-CItamu
Halo Bentoeliser,
Mas Ben sudah siap menggendong Gus Atya yang juga tidak kalah ngganteng dari bapaknya.
“Sudah dibawa kuncinya, Jeng ?” Tanya Mas Ben ke Jeng Arum, ketika isterinya itu menutupkan pintu. Ya, model handle pintu rumah Mas Ben adalah model tombol kunci dari dalam. Jadi sekali saja lupa membawa kunci saat meninggalkan rumah, pasti kojur ndak bisa masuk rumah.
Di pundak Jeng Arum sudah menggelayut tas berisi “amunisi” keperluan Gus Atya, popok kertas, empat botol susu dengan susu bubuk di dalamnya, baju kecil Atya dan selendang untuk antisipasi kalau Atya nanti minta digendong maminya. Tidak ketinggalan rantang dan termos air untuk cadangan makan siang.
Hari itu Mas Ben berniat menjalan-jalankan isteri dan putera mereka ke kebun binatang. Acara wisata edukasi untuk Gus Atya mengenal hewan ciptaan Tuhan dan flora yang ada di kebun binatang.
Perjalanan dimulai dengan naik becak, kemudian berganti bus [yang beruntung hari itu tidak padat penumpangnya], hingga tiba di tujuan dalam keadaan masih segar bugar tidak kekurangan oksigen selama perjalanan.
“Atya capek ya ? Tenang saja, besok Bapak ajak Atya lagi piknik naik mobil Bapak ya.” Kata Mas Ben, sambil menyeka keringat di kening dan mengenakan topi ke kepala Atya.
Sesaat berlalu, Si Atya sudah terlihat girang-gemirang melihat beraneka satwa yang menghuni kebun binatang. Telunjuknya berkali-kali mengarah ke binatang atau kandang binatang yang dilihatnya.
“Itu gajah, dipanggil ayo … gajah gajah.” Kata Jeng Arum sambil melemparkan roti yang disambut hangat oleh si gajah.
Di tempat lain Si Atya sangat asyik memperhatikan ikan. Sesekali mulutnya berceloteh sambil menunjuk-nunjukkan jemarinya, seolah ingin berkata kepada bapak-ibunya, Pak / Bu ikannya bagus-bagus ya.
Matahari mulai menjauh dari bumi mamancarkan sinarnya yang makin panas.
“Kita istirahat dulu Jeng.” Ajak Mas Ben.
Mereka pun memanjakan kaki dengan lesehan beralaskan tikar sewaan yang banyak dijajakan di lokasi.
“Mas, ati-ati lho menjanjikan anak. Nanti kalau tidak terwujud, kasihan anaknya juga lho.”
“Janji yang mana Jeng ?” Balik tanya Mas Ben.
“Itu tadi, di pintu masuk kebun binatang. Mas Ben kan sempat berjanji akan membeli mobil untuk kita.”
Mas Ben mengernyitkan dahinya, “Oo itu, ya ndak apa-apa to Jeng. Wong namanya cita-cita. Kan enak to kalau punya mobil, kita bisa jalan-jalan kapan saja tanpa tergantung pada kendaraan umum. Terus juga kita juga bisa memanjakan simbahnya Atya kalau pas pulang kampung, menjalan-jalankan beliau, disupiri oleh anaknya.” Mas Ben tersenyum sambil menyantap pisang rebus buatan isterinya.
“Iya, tapi mobil kan mahal Mas. Apalagi yang diimpikan Mas Ben kan bukan mobil rata-rata. Mending kita berpikir dulu menabung untuk biaya pendidikan putra kita.” jelas Jeng Arum.
“Lho, namanya juga cita-cita Jeng. Yang sekalian to, jangan nanggung-nanggung.” Kata Mas Ben menggoda isteriya.
“Justeru dengan cita-cita yang besar itulah, cara paling efektif untuk menjaga rasa syukur kita dan komunikasi kita kepada Gusti Allah.” Lanjut Mas Ben.
Mas Ben menghela nafas.
“Jeng, karena saya sayang sama isteri dan putera kita, makanya saya berani pasang cita-cita besar.”
“Nanti kalau ndak tercapai kecewa.” Potog Jeng Arum sambil menyuapkan serutan pisang kepada Atya.
“Lho, wah isteriku ini sudah mulai gojag-gajeg deh. Jangan pesimis gitu ah.” Mas Ben mencubit gemas pipi isterinya.
“Jeng sesungguhnya tidak ada cita-cita itu yang tidak bisa diwujudkan. Tuhan sudah berlaku adil, memberikan kita hasrat untuk memperbaiki hidup, untuk mendukungnya telah dibekalkanNYA kepada semua umat manusia akal budi dan sarana untuk menggenapi cita-cita mereka masing-masing.” Mas Ben mulai berkhotbah.
“Tapi kan semua tergantung kepada ridho Gusti Allah.” Kata Jeng Arum.
“Benar, kalau cita-cita itu tidak layak atau cara pengupayaannya tidak benar, ya pasti Tuhan tidak menridhoi atau menangguhkan pengabulannya hingga cara-caranya diperbaiki.” Jelas Mas Ben.
“Bila kita sudah berani menetapkan cita-cita apalagi di dalam doa, maka secara otomatis sudah termeteraikan kepada kita tugas untuk menggenapinya, karena itu berarti kita sudah membuat janji kepada Gusti Allah, Jeng. Karena Gusti Allah Mahapengabul.
“Jadi kalau saya tadi menyatakan cita-cita punya mobil bagus, itu berarti saya punya hutang bekerja lebih baik, menggunakan rejeki dari Gusti Allah dengan bijaksana sehingga kita bisa menyisihkannya juga untuk bakal mobil kita nanti. Memang cita-cita itu tidak berlaku sama pemenuhannya untuk setiap orang. Masing-masing sudah punya garis rejeki yang ditetapkan Gusti Allah dengan kadar kebahagiaan yang sama, namun hak untuk berharap berlaku sama bagi semua; semua orang berhak dan punya kesempatan sama punya rumah, punya mobil, bisa pinter. Yang tekun dan setia pada cita-cita baiknya, hanya masalah waktu saja koq pengejawantahannya.”
“Ayo Jeng kita lanjutkan jalan, ntar keburu sore.” Ajak Mas Ben.
Mas Ben membantu isterinya berbenah-benah. Selanjutnya membayarkan uang sewa tikar kepada pemiliknya yang setia menunggu tidak jauh.
Mereka bertiga melanjutkan ke panggung hewan yang mempertunjukkan atraksi ketangkasan hewan.
Mas Ben memilih tempat yang dekat dengan pintu keluar, biar tidak terlalu berdesak-desak saat pertunjukan selesai.
Si Atya terlihat antusias dan riang menyaksikan tingkah lucu beruang, monyet dan burung yang lincah mengikuti dan melaksanakan instruksi pawangnya dengan jenaka. Berkali-kali pekikan tawa riangnya terdengar dibarengi gerakan hendak menghentak.
Dan sang surya pun semakin menggulir ke tempat peraduannya. Berakhirlah kisah piknik edukasi Mas Ben dan keluarganya di kebun binatang hari itu.
Menjelang maghrib nereka tia kembali di rumah, dengan segenap rasa syukur atas penyertaan dan penyelenggaraan hari yang indah oleh Tuhan.
Si kecil Atya pun klipuk kelelahan. Setelah diseka dengan air hangat oleh ibunya, dan sebotol susu, akhirnya dia pun tertidur lelap.
Di meja makan.
“Mas.” Lembut suara Jeng Arum.
“Ya, Jeng.” Kata Mas Ben sambil menuangkah sayur ke piringnya.
“Terimakasih ya, sudah berkenan menjadi pelindung untuk saya dan dan Atya.” Kata Jeng Arum sambil menggamit lengan suaminya.
“Iya Jeng, sama-sama saya juga sayang sama Jeng Arum dan puera kita.” Jawab Mas Ben.
“Percaya kan sekarang tentang tidak ada cita-cita yang tidak terkabul. Masih ingat to bagaimana kita dulu memaksa Gusti Allah agar berkenan merestui hubungan cinta terlarang kita ? Karena kita tidak henti-hentinya memohon, dan menjaga kehormatan masing-masing dari kita selama masa pacaran yang lama itu. Makanya kita bisa merasakan anugerah cinta itu.” Goda Mas Ben ke isterinya.
“Ah, Mas Ben bikin saya jadi malu mengingat betapa bandelnya kita dulu.” Manja Jeng Arum sambil mendaratkan ciuman ke pipi suaminya yang berbalas tidak kalah lembutnya.
Demikianlah kisah perjalanan keluarga Mas Ben hari itu.
Salam bentoelisan,
Mas Ben
Mei Satu dan Dua
Halo Bentoeliser,
Hu ha he ha hup hap … nafas Mas Ben riuh rendah memburu layaknya mesin selep padi.
Dengan handuk kecil melilit ke tengkuknya Mas Ben berlari-lari kecil menghirup hawa yang biasanya masih centil menggoda Mas Ben untuk lebih mempererat pelukannya pada guling kesayangangannya.
“Tumben Mas, koq ndak nunggangi sepedanya.” Mas Ben menolehkan kepalanya.
“Eh iya, Mbah Samto. Sepeda saya gotrinya pecah, belum sempat saya bawa ke bengkel.” Jawab Mas Ben di sela-sela nafasnya yang semakin memburu.
“Istirahat dulu Mas Ben, belum biasa lari to ? Nanti semaput.” Ledek Mbah Samto.
Mas Ben menghentikan aktivitasnya, bersandar dengan sebelah tangan menempel ke pohon kelapa yang ada di pinggir jalan.
“Wah sepertinya mau masak besar nih Mbah ?” Mas Ben melirik ke tas pandan Mbah Samto yang berisi penuh daun lumbu.
“Iya, sudah lama aku ndak makan sayur lumbu, kangen.” Mbah Samto tersenyum memperlihatkan sisa geliginya yang masih tersisa.
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmuEngkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa
Lamat – lamat terdengar lagu Hymne Guru dari dalam sebuah rumah.
“Wah tanggal 2 Mei sekarang ya, hari pendidikan nasional.” Kata Mbah Samto.
“Iya Mbah.” Jawab Mas Ben singkat, sambil ancang-ancang hendak melanjutkan lari paginya yang tidak biasanya.
“Mbah, aku lanjut dulu ya. Selamat masak sayur lumbu, jangan lupa saya dibagi ya” Kata Mas Ben berlari meninggalkan Mbah Samto.
“Ya, jangan terlalu ngoyo larinya, kasihan jantungmu belum terbiasa.” Balas Mbah Samto.
Mas Ben melambaikan tangannya sambil terus berlari.
—–
Tiba di rumah, Mas Ben langsung meraih koran di teras.
“Mbok bersih-bersih badan dulu, biar lebih seger.” Kata Jeng Arum sambil menggantungkan cucian ke gawang jemuran.
“Anak lanang, mana Jeng.” Tanya Mas Ben.
“Bobok lagi, barusan mandi dan mimik susunya.” Jawab Jeng Arum.
Mas Ben bangkit menuju kamar, menemukan betapa sejuknya paras putranya dalam lelapnya, memeluk guling kecil kesayangannya.
Mas Ben tersenyum, mendaratkan kecupan ke dahi putranya yang meresponnya dengan geliat kecil.
Mas Ben sudah berganti pakaian kering, bersisir rapih keluar ke teras menemukan kembali korannya, yang sudah menjadi bertememankan segelas teh hangat dan beberapa potong wajik.
Sekejap dia sudah larut melahap berita yang tersajikan.
“Baaaapahk” … celoteh merdu Gus Atya, mengusik pembacaannya.
“Lho putra ganteng Bapak sudah bangun to, koq cepet boboknya ?” Kata Mas Ben sambil menyambut tubuh kecil putranya dari gendongan isterinya.
“Sudah Pak, Atya kan sudah sejam boboknya.” Kata Jeng Arum sambil mencubit lembut pipi putra mereka.
Mas Ben menghentikan bacanya, memangku Atya. Diraihnya teh hangat, dieguknya. Dan dilanjutkan menyantap wajik berbagi suap dengan putranya yang sudah mulai belajar makan.
“Jangan besar-besar, kasihan belum bisa mengunyah dia.” Jeng Arum mengingatkan.
Jeng Arum mengambil alih koran, “Masih ada demo hari buruh juga, saya kira tidak ada karena Sabtu kantor pemerintah libur.” gumam Jeng Arum.
“Masih saja ada mahasiswa terlibat di dalamnya dan tetap saja ada bentrokan dengan aparat. Mereka bersikap seolah menjadi lakon pembela.” Suara Jeng Arum bergetar tertahan.
“Ya, itulah kondisi yang ada Jeng. Buruh yang bentrok dengan kondisi perkembangan, merasa terabaikan. Dan mahasiswa yang sangat sadar diri mereka itu bagian dari kelompok intelektuas, sangat sering mengabaikan nilai-nilai budi pekerti luhur. Mereka begitu mudah terlibat dalam perlagaan emosi dan kekerasan. Banyak dari mahasiswa manjadi arogan, merasa berhak mengatur setiap kebijakan pemerintah, dan merasa suara mereka sepantasnya didengar. Jadi ya sorry to say, kalau saya bilang ada mahasiswa itu yang sangat adigang adigung. Kalau keinginannya tidak dipenuhi, ngrusak.” Mas Ben menghela nafas.
“Iya Mas, berita demo buruh banyak terjadi, di Makasar, Bojonegoro, Jogja para mahasiswa menolak wapres Boediono di UGM, di Jakarta, Bima, Surabaya dan daerah lain. Bahkan ada mahasiswa yang terpaksa dilebamkan oleh aparat.” Jeng Arum bergidik.
“Kenapa ya Mas, koq begitu mudahnya mereka itu dikalahkan oleh nafsu amarahnya ?” Jeng Arum menggigit bibirnya.
“Ya, buktinya seperti hari ini, hari pendidikan nasional kan sekarang sudah tidak terdengar gaungnya lagi Jeng. Ajaran baik Ki Hajar Dewantara Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani sudah banyak ditinggalkan. Karena penyadaran yang kurang dan cenderung ditinggalkan, ditambah pesatnya teknologi, menjadi alasan semua sifat mudah marah, sombong merajalela, dan makin parah karena banyak kepentingan yang bersembunyi di baliknya.” Kata Mas Ben menoleh ke isterinya.
Banyak manusia menyalahtafsirkan buah dari teknologi, mengaburkan antara kebutuhan dan keinginan. Lha keinginan itu sendiri kan cenderung memaksa to ?” Lanjut Mas Ben.
“Seringkali teknologi yang dibuat manusia untuk membantu manusia tidak lagi dikuasai oleh manusia tetapi sebaliknya manusia yang terkuasai oleh kemajuan teknologi. Manusia tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya. Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa saja yang telah berhasil/tidak berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya). Dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini bahwa keberadaan seorang pribadi, jauh lebih penting dan tentu tidak persis sama dengan apa yang menjadi miliknya dan apa yang telah dilakukannya. Sebab manusia tidak sekedar pemilik kekayaan dan juga menjalankan suatu fungsi tertentu. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand !”
Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin. Sedangkan maksud pendirian Taman Siswa adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan hara diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”.
Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait); segi administrasi sebagai guru; dan sikap profesionalitasnya. Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.
Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian.”
Panjang lebar “orasi” Mas Ben kepada isterinya.
“Panjenengan koq jadi pinter banget berkata-kata to Mas. Nih mesti lagi emosi ya ?” Goda Jeng Arum sambil mencubit pinggang suaminya.
Gus Atya di pangkuan ayahnya, ndomblog memperhatikan persdiskusian seru antara kedua orang tuanya.
“Ya pinter, wong saya sudah baca tadi … lha ini beritanya http://www.bruderfic.or.id/h-59/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang-pendidikan.html.” Telunjuk Mas Ben mengarah ke suatu judul berita.
“Saya kadang suka bingung dengan tuntutan perbaikan nasib buruh.” Kata Mas Ben.
“Maksudnya, Mas ? Kan Mas Ben bertitel buruh juga to ?” Tanya isterinya mengerling menggoda sekali.
“Benar. Untuk tuntutan perbaikan status tenaga kerja, seperti mengurangi sedikit demi sedikit praktek outsourching, menimbang kinerja karyawan secara adil hingga tidak ada titel karabkon [karyawan abadi kontrak], itu semua saya setuju.”
“Lha kalau memaksa minta peningkatan gaji secara membabi buta, itu kan juga bukan keadilan untuk pengusaha.”
“Pengusaha dituntut untuk terus setiap tahunnya mengevaluasi gaji karyawan dan kesejahterannya, diperkuat dengan UU. Perusahaan yang baik merasa wajib memberikan pakaian kerja yang layak kepada karyawannya, memberikan kesempatan piknik karyawannya bersama keluarga seperti perusahaan tempat saya bekerja, memberikan bonus tahunan.” Mas Ben berhenti sejenak. Sementara tidak ada peraturan atau UU yang mewajibkan setiap karyawan meningkatkan produktivitas dan loyalitasnya terhadap perusahaan tempatnya bekerja, paska UMK ditinjau.
“Kita juga tidak boleh menutup mata, tidak semua perusahaan memiliki tingkat laba dan kondisi keuangan yang sama. Banyak pekerja yang melihat kesejahteraan di suatu perusahaan yang mapan menjadi sebuah standarisasi.”
“Akan lebih baik sekiranya, pola pikir kita bukan hanya menuntut kepada orang lain. Kita harus menuntut kepada diri kita juga untuk adilnya. Bila kita menuntut perusahaan memberikan kesejahteraan yang baik, maka kita pun sebagai karyawan yang baik juga harus membuat target peningkatan produktivitas untuk sulih dari perbaikan kesejahteraan yang sudah kita terima dari perusahaan. Karena perusahaan punya hutang kewajiban untuk perbaikan gaji karyawannya, maka karyawannya pun juga berkewajiban memberikan produktivitas yang berlipat untuk perusahaan.
“Tahu tidak Jeng ?” Tanya Mas Ben.
Banyak kawan saya, yang dikejar-kejar debt collector, bukan untuk pelunasan hutang mereka atas pembelian bahan pokok dan untuk pemenuhan pebutuhan fisik / hidup minimum. Tapi mereka sibuk sembunyi dari tagihan atas barang-barang sekunder bahkan tertier yang mereka cicil.
Ya kalau demi itu kan gaji ditingkatkan berapa pun ndak akan pernah cukup, karena mereka mencampuradukkan antara kesejahteraan dengan kemakmuran. Padahal kesejahteraan itu diukur kualitasnya bukan kuantitasnya. Dan kemakmuran pun tidak ada batasnya.
Contohnya ya para mereka yang sedang menjadi lakonnya tivi dan koran, mereka digaji seberapa pun tetap saja merasa kurang … dan korupsi menjadi jalan pelampiasan nafsu mereka … kan keblinger.”
Keasyikan diskusi bipartid mereka terhentikan oleh kehadiran Jiyo yang sudah berada di depan pintu pagar dengan mangkok bertutup daun pisang di tangannya.
“Kulonuwun Mas Ben. Ini saya mengantarkan titipan dari Mbah Samto untuk Mas Ben, katanya.”
“Sini-sini Yo, masuk saja. Tidak dikunci pagernya.” Kata Mas Ben.
“Wah Mbah Jiyo ki tenan koq, wong saya cuma bercanda koq diantar beneran sayur lumbunya.” Kata Mas Ben mengetahui apa yang dibawa Jiyo.
“Yo wis sini Dik Jiyo, sekalian kita nikmati bersama rejeki ini.” Ajak ramah Jeng Arum.
“Wah dengan senang hati.” Balas Jiyo.
Dan mereka pun bertiga bersantap riang dengan menu spesial sayur lumbu ala chef Mbah Samto.
Bukankah segala kesederhanaan akan berubah menjadi istimewa jika didukung dengan rasa syukur yang besar ?
Salam bentoelisan
Mas Ben
Aku Nice, Anda Nice, Semua Nice Adanya
Halo Bentoeliser,
Pagi ini Mas Ben beroleh hadiah istimewa dari Mbak Ok. Dahsyat sekali, sebuah award bertajuk You Are Nice Blogger.
Senang sekali rasanya, lha dibilang Nice hehhhee.
Nah karena award itu kan menimbulkan kebahagiaan, maka hukumnya Mas Ben pun pun harus membagikan kebahagiaan pula kepada sahabat blogger lainnya.
Jadi dengan tidak berpanjang kata, berikut adalah maksud dan harapan dari award ini, disampaikan dengan apa adanya sesuai aselinya lho hehhehe … Silakan menyimak
Award ini diterima dari Mbak Ok. Ini adalah award SEO yang menarik dan cerdik untuk dapat meningkatkan traffic hanya dengan bermodalkan kejujuran, lho kok bisa? kalo nggak percaya ikutin caranya :
Pertama, Mas Ben dan penerima award berikutnya dari Mas Ben harus memasang link-link berikut ini :
1. Zerox Falcon
3. Masqibal
5. Gadgetboi
6. Jimbun Punya
9. Ok
10. Mas Ben
Kedua, setelah menuliskan ke 10 bloger tersebut, hapus blog no 1 hingga blog tersisa 9 kemudian naikkan semua urutan blog dan isi no 10 dengan nama blog (link) milik Anda, hingga urutan blog kembali menjadi 10 [sudah langsung dilaksanakan sama Mas Ben
].
Ketika posisi Anda 10, jumlah backlink = 1
Posisi 09, jumlah backlink = 5
Posisi 08, jumlah backlink = 25
Posisi 07, jumlah backlink = 125
Posisi 06, jumlah backlink = 625
Posisi 05, jumlah backlink = 3,125
Posisi 04, jumlah backlink = 15,625
Posisi 03, jumlah backlink = 78,125
Posisi 02, jumlah backlink = 390,625
Posisi 01, jumlah backlink = 1,953,125
Lakukan seperti yang Mas Ben lakukan sebagaimana langkah-langkah diatas, dan SEO akan berjalan baik dengan sendirinya. Selamat berburu traffic kepada penerima award berikutnya, yaitu :
1. Fansmaniac
2. Haryadi
3. Kampret
4. Bayu Putra
5. Bayu Lebond
6. Semua Bentoeliser yang berkenan
[karena Anda semua nice adanya
]
Demikianlah, award telah diterima Mas Ben dengan sorak sorai suka cita. Dan semoga perasaan yang sama pun dialami para blogger penerima award ini.
Salam bentoelisan
Mas Ben












































![Bloggers Choice Awards [Logo]](http://farm4.static.flickr.com/3009/2808414095_ee4d1f07d1.jpg)




































