Halo Bentoelisers,
“Mbah, tehku minta tambah es yo.”
“Wah njanur gunung, tumben Mas Ben mimik es.” Sambar Pak Mardi sebelum Mbak Samto sempat menjawab.
“Yo itu, ambil sendiri di termos.” Jawab Mbah Samto yang tetap tidak beranjak dari duduknya, tangannya asyik mengibaskan kipas anyaman bambu.
“Aku sedang mantang teh anget, beberapa hari ini hawanya koq panas banget, tidak seperti biasanya.” gumam Mas Ben sambil mengambil dan menambah es batu ke dalam gelasnya.
“Lha iya, wong saya saja sampai ndak betah lama-lama di dalam rumah, ngisis ngligo [bertelanjang dada] di luar ndak pernah lepas dari kipas-kipas.” Jelas Mbah Samto sambil terkekeh.
“Yah ini kan karena efek pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim global.” Sahut Mas Ben.
“Dunia makin maju koq makin susah istilahnya to ?” Gumam Pak Mardi.
“Pemanasan global itu indikasi naiknya suhu muka bumi secara global [meluas dalam radius ribuan kilometer] terhadap normal / rata-rata catatan pada kurun waktu standard [ukuran Badan Meteorologi Dunia / WMO : minimal 30 tahun]. Lha kalau perubahan iklim global itu perubahan unsur-unsur iklim [suhu, tekanan, kelembaban, hujan, angin, dsb] secara global terhadap normalnya.” Terang Mas Ben.
“Lha iyo, makanya sekarang ini musim hujan dan panas sudah ndak teratur seperti jaman dulu lagi. Perbedaan musim hujan dan kemarau terus musim pancaroba juga ndak kelihatan. Bukan begitu Mas Ben ?” Lanjut Mbah Samto.
“Wah, Mbah Samto hebat, ngerti masa pancaroba segala.” sindir Pak Mardi.
“Yo ngerti, wong temannya Mas Ben.” jawab Mbah Samto acuh.
“Kapok apa ndak Pak Mardi, disekak mat sama Mbah Samto.” Gurau Pak RT yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka, bersama Mas Danang, dosen muda yang juga calon suami dari Mbak Ranti puterinya.
“Wah, Pak RT. Monggo Pak, mampir. Dari mana mau kemana ini ?” Tanya Pak Mardi berbasa-basi.
“Mau pulang, dari kediaman Pak RW membahas rencana pertemuan warga Sabtu besok.” Jawab Pak RT sambil mengambil tempat di samping Mbak Samto.
“Monggo Mas Danang.” Mas Ben mempersilakan.
“Terimakasih Mas Ben.”
“Oo, pertemuan tentang Dampak Global Warming dan Tips Menguranginya, itu to Pak ?” Tanya Mbah Samto.
“Benar sekali.” Jawab Pak RT yang diiyakan oleh Mas Danang.
“Lho, Mbah Samto ki piye to. Lupa ndak nawari Pak RT dan Mas Danang mau minum apa to.” Kata Pak Mardi.
“Eh iya, sampai lupa aku. Maaf Pak RT, wedang jahe to nggih ?” Ujar Mbah Samto.
“Iyo wis, apa saja yang penting jangan terlalu manis. Mas Danang, jahe, teh atau apa ?
“Maturnuwun, es teh saja.”
“Anu, Pak RT dan Mas Danang. Mumpung sudah ketemu di sini boleh tidak kami diberi ilmu bocoran tentang apa yang akan dibahas di pertemuan warga nanti ? Tanya Mas Ben.
“Iya Pak RT, nanti sudah punya sangu ilmu pas hari Sabtu.” Imbuh Mbah Samto sambil meracik wedang jahe dan es teh.
“Ah, sangu apa to ? Sama saja, saya nanti hari Sabtu kan juga hadir jadi warga yang akan memperoleh penjelasan to. Tamu dari BLH dibantu Mas Danang yang akan mendampingi.”
“Wah Pak RT itu memang paling pinter kalau merendah.” Kata Mas Ben.
“Dan pinter cari calon mantu juga.” Goda Pak Mardi.
Obrolan di warung Mbah Samto malam itu berlangsung akrab, penuh kekeluargaan antara Ketua RT dan warganya.
—
Hari Sabtu sore yang ditunggu pun tiba.
Mas Ben sudah siap dengan sepedanya, “Aku berangkat dulu Jeng.”
Mas Ben mengayuh sepedanya diiringi lambaian tangan mungil Atya dalam gendongan ibunya.
Di aula sekolah dasar kampung, tempat pertemuan dilakukan, sudah tampak Lik Promo, Kang Darno dan barisan muda Jiyo dan Kasturi, sudah tampak hadir di antara para warga lainnya.
Mas yang hadir berbarengan Mbah samto mengambil tempat di sebelah Lik Promo.
“Kabar baik Lik ?” Mas Ben menyalami.
“Alhamdulilah, berkat doanya.” Balas Lik Promo, yang juga menyalami Mbah Samto.
Dan pertemuan pun dimulai, dibuka dengan sambutan dari Pak Lurah, dan memperkenalkan narasumber dari BLH [Badan Lingkungan Hidup] Daerah.
Penjelasan dimulai dari pengertian pemanasan global dan dampaknya perubahan iklim global.
Warga antusias mengikuti, banyak pertanyaan disampaikan.
Dijelaskan unsur penyebab pemanasan / perubahan iklim, a.l : Populasi yang naik, Eksploitasi lingkungan meningkat dengan marak dan meluasnya perubahan tataguna lahan yang berakibat pada penciutan luas hutan, kemajuan industri yang menimbulkan naiknya sampah ke darat, laut dan udara yang berlanjut dengan rusaknya gas ozon atau lubang ozon di kutub dan konsentrasi gas buang yang menjadi selimut gas atau gas rumah kaca.
Menjawab pertanyaan warga tentang efek rumah kaca, dijelaskan bahwa efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida [CO2] dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak [BBM], batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuh-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.
Energi yang masuk ke bumi mengalami 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25% diserap awan, 45% diabsorbsi permukaan bumi, 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.
Energi yang diabsorbsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya. Efek rumah kaca berefek pada meningkatnya suhu permukaan bumi yang mengakibatkan perubahan iklim yang sangat ekstrim. Hal ini mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasa global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5oC. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5 – 4,5oC. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Beberapa catatan dampak regional dan lokal di Indonesia : Pola musim mulai tidak beraturan sejak tahun 1991, musim kemarau cenderung kering dengan tren hujan makin turun yang berdampak kebakaran lahan dan hutan berlanjut dengan penceran asap, munculnya kondisi cuaca ekstrim yang sering menimbulkan bencana banjir bandang dan tanah longsor dalam beberapa tahun terakhir, kota yang dulunya sejuk kini menjadi hangat [Urband Heat Island], Mulai seringnya banjir pasang [rob] yang cenderung meluas, maraknya badai lokal atau puting beliung yang meluas di kawasan yang sebelumnya belum pernah atau jarang terjadi, suhu perkotaan kian naik sebagia indikator lanjutan dampak pemanasan dan perubahan lingkungan.
“Wah ngeri ya, bisa kelelep kampung dan rumah kita.” Celetuk salah seorang yang hadir.
“Betul sekali, permukaan laut makin naik dan lahan tanah makin sempit karenanya. Tapi bila itu tidak ada kepedulian dan tindakan untuk mencegahnya dari kita, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Betul begitu Pak ?” Kata Mas Danang sambil melirik Bapak Narasumber dari BLH.
“Benar apa yang disampaikan Mas Danang, bahwa segala sesuatu akan menjadi semakin parah apabila didiamkan, dan sebaliknya akan bisa dicegah bilan ada tindakan.”
“Bagaimana cara mencegahnya, Pak ?” Beberapa warga yang hadir bertanya berbarengan.
“Wah senang sekali saya bicara di sini, antusias semua yang hadir. Dan tampak sekali semangat perbaikan dari Bapak dan Ibu yang hadir.”
“Iya Pak, kami takut nih membayangkan masa depan kampung kami. Apalagi kampung kami belakangan ini sering diguncang gempa, dan juga angin ribut.” terdengar suara dari barisan agak belakang.
“Jadi begini Bapak dan Ibu. Sebenarnya tidak diperlukan perubahan yang radikal untuk membantu bumi ini menjadi lebih bersahabat. Cukup mengubah beberapa rutinitas yang dapat menurunkan “jejak karbon” kita, yang pada akhirnya akan menghemat pengeluaran uang kita. Tetapi yang terpenting adalah kita memberikan anak cucu kita tempat yang lebih baik untuk ditinggali.”
Banyak cara solutif diuraikan, a.l. :
- Kurangi konsumsi daging
-
Makan dan masaklah dari bahan yang masih segar. Mengurangi makanan olahan dalam kemasan akan menurunkan energi yang terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang-ulang.
-
Beli produk hasil pertanian lokal. Akan menghemat energi terutama jika kita menghitung energi dan biaya transportasinya.
-
Daur ulang alumunium, plastik dan kertas. [Catatan : energi untuk membuat satu kaleng aluminium setara dengan energi untuk menyalakan televisi selama 3 jam].
-
Bila menggunakan oven, matikan oven beberapa menit sebelum waktunya. Biarkan dalam keadaan tertutup untuk mempertahankan panasnya.
-
Kurangi atau hindari fast food [penghasil sampah terbesar di dunia].
-
Biasakan membawa sendiri tas belanja yang bisa dipakai berulang dari rumah. Atau responlah baik itikad toko swalayan yang menyediakan tas kertas atau tahan lama [walaupun anda harus mengeluarkan biaya ekstra untuk tas itu].
-
Gunakan gelas / piring yang bisa dicuci, hindari gelas atau piring dari stereofoam.
-
Berbelanja dekat di lingkungan tinggal, berdampak hemat BBM.
- Tanam pohon setiap ada kesempatan.
-
Turunkan suhi AC, gunakan timer AC untuk menghindari lupa mematikannya.
-
Matikan lampu di ruangan yang tidak terpakai, ayau gunakan lampu hemat energi.
- Tutup kran air rapat, jangan tinggalkan menetes.
-
Bila ingin membangun rumah, maksimalkan pencahaan dari alam dengan ventilasi dan lubang angin yang cukup.
-
Hindari posisi standby pada alat elektronik [mengurangi emisi CO2], gunakan colokan lampu yang ada tombol on/off nya atau cabut kabel dari sumber listrik bila sudah selesai penggunaan.
- Segera cabut kabel bila isi ulang batere sudah selesai / full.
-
Jangan terlalu lama membiarkan pintu kulkas terbuka [akan diperlukan 3 menit full energi untuk mengembalikan suhu kulkas ke suhu yang diinginkan].
-
Potong makanan lebih kecil [menghemat energi untuk memasaknya].
-
Bila memiliki anak kecil, usahakan mencuci sesuai kapasitas maksimum mesin cuci [selain menghemat air, listrik, juga mengurangi pencemaran dari detergen yang digunakan].
-
Hindari parfum / deodoran dengan aerosol. Pilihan spray dengan kemasan botol kaca akan lebih baik.
Demikianlah pertemuan itu menghasilkan banyak pengertian dan pemahaman baru pada semua yang hadir.
Akhirnya pertemuan ditutup menjelang waktu marghrib. Dan para warga pun bubar, kembali ke rumah masing – masing dengan membawa bekal harapan baru untuk menyelamatkan kampung dan lingkungan tinggal mereka dari pengaruh pemanasan global.
Salam bentoelisan
Mas Ben
Sumber data :
-
Pemanasan / Perubahan Iklim Global Dan Dampaknya DI Indonesia, oleh Paulus Agus Winarso.
- Wikipedia
- http://bapedalda-diy.go.id