Korupsi Riwayatmu Nanti
Halo Bentoelisers,
Sudah menjadi agenda di lingkungan RT Mas Ben tinggal, setiap hari Minggu pertama setiap bulannya pasti diadakan kerja bakti. Tidak muluk-muluk, setiap warga hanya diimbau untuk melakukan pembersihan di lingkungan sekitar rumahnya masing-masing. Namun demikian program rancangan Pak RT ini cukup tokcer untuk menjadikan lingkungan yang dipimpinnya senantiasa tampak bersih gilar-gilar. Hal lain yang juga penting adalah dengan kegiatan rutin bulanan ini, berdampak kepada hubungan sosial antar warga menjadi semakin erat dan akrab.
Sebagaimana yang sudah-sudah pasca kerja bakti, minggu siang ini Pak RT mendapat kehormatan menyediakan teras dan halaman rumahnya yang asri menjadi balai istirahat para warganya melepas lelah. Meski harus menyisihkan dana untuk jamuan, bagi Pak RT pelayanannya ini merupakan suatu kehormatan. Dia tidak merasakan rugi sedikit pun, justeru sebaliknya dia merasa diuntungkan. Dengan pelayanannya yang tanpa pamrih itu berbuah baik, yaitu warganya menjadi taat aturan dan sungkan untuk bertindak di luar norma. Dalam kepemimpinan Pak RT Kusno, lingkungannya telah berkali-kali meraih prestasi di tingkat kelurahan. Di antaranya lingkungan RT dengan tingkat buta aksara 0, prestasi pendidikan anak-anak terbaik, lingkungan dengan tingkat partisipasi kegiatan terbaik, juara gerak jalan ibu-ibu PKK dan anak-anak se-kelurahan.
Bukti paling nyata berkat kepemimpinan Pak Kusno yang bersahaja adalah tidak adanya warga yang alpa dalam setiap kegiatan kerja bakti.
“Wah Mbah Samto anteng banget.” Celetuk Mas Kasturi yang melihat Mbah Samto asyik dengan selembar koran di tangannya.
“Ada berita yang menarik po Mbah ?” Si Jiyo menimpali.
“Ah paling ya masih itu-itu saja beritanya, tentang kriminal dan Pansus.” Balas Kang Darno.
“Iya, itu berita Pansus belum selesai-selesai ya ?” Lik Promo melirik Mbah Samto yang masih tetap dengan keseriusannya membaca koran, mengeja kata larik demi larik.
“Mbah Samto ki piye to, diajak ngomong dari tadi koq diam saja nggak nggubris babar blas.”
“Ini lho Mas Ben, berita tentang Ari Muladi dan Anggodo. Kalau berita tentang Bang Kasturi aku sudah bosen.” Jawab Mbah Samto.
“Bank Century Mbah. Wah Mbah Samto ngenyek ik.” protes Mas Kasturi yang namanya dipelesetkan Mbah Samto.
Mas Ben yang sempat gregetan sama Mbah Samto, tergelak-gelak diamini oelh Bapak-Bapak termasuk Pak RT.
“Sudah-sudah, kasihan Mas Kasturi wajahnya sampe merah seperti kepiting rebus.” bela Pak RT yang tidak tega melihat Mas Kasturi yang mulai dilanda krisis pede itu.
Tampak Bu RT dan puterinya, Mbak Ranti keluar dari ruang tengah.
“Wah ini yang ditunggu-tunggu muncul. Ayo Bapak-Bapak, seadanya saja ya, silakan dicicipi nogosari buatan Bu RT.” Penawaran pak RT yang langsung disambut hangat oleh mereka yang ada. Tidak perlu waktu lama, nogosari sejumlah enam piring berubah wujud menjadi onggokan daun pisang.
“Korupsi dan penyuapan, koq seperti tidak ada habisnya to di negeri kita ya ?” Ujar Kang Darno. “Apa sudah takdirnya negeri kita, penuh dengan koruptor dan penyuap.” Lanjutnya.
“Lho koq trus mutung begitu to Kang Darno, jangan pesimis ah.” Goda Mas Ben.
“Lho lho lho, jadi anget to gara-gara korupsi.” Ucap Pak RT sembari tersenyum.
“Lha memang kenyataannya para penegak hukum kita itu selalu kecolongan je sama para koruptor itu. Bagaimana Pak RT ?” Sela Mbah Samto.
“Sebenarnya masalah korupsi dan penyuapan ini sudah lama ada. Sejak jaman kerajaan dengan budaya upeti berupa hasil bumi yang diwajibkan untuk rakyat kepada junjungannya. Bahkan pada jaman putera-puteri Nabi Adam pun praktek korupsi telah ada, dilakukan oleh Kabil yang mengurangi persembahan kepada Tuhan. Dia memberikan persembahan bukan hasil ternak terbaiknya. Beda dengan Habil saudaranya yang memberikan hasil panen terbaiknya kepada Tuhan.”
“Di masa sekarang pun entah sengaja atau tidak, kita pun sering lho melakukan korupsi.”
“Begini maksudnya.” lanjut Pak RT yang melihat banyak warganya menjadi bingung.
“Mungkin kita pernah menyimpang dari amanah. Ketika dipasrahkan sejumlah uang kepada kita untuk pembelian konsumsi sebuah acara misalnya, kita tidak belanjakan semua. Contoh lain, bila di kantor kita kebetulan mendapat tugas berbelanja, kita menerima keuntungan dari selisih harga pembayaran dengan nilai yang tertulis di kuitansi.”
“Padahal yang jelek-jelek itu bikin ketagihan dan jadi kebiasaan ya Pak RT, kalau tidak ketahuan.” tukas Mbah Samto.
“Betul.” Jawab Pak RT.
“Untuk kasus-kasus korupsi dan penyuapan besar seperti sekarang ini, sebenarnya bukan masalah yang tidak bisa terpecahkan. Kenyataannya di negara lain pun tindakan tercela ini juga terjadi, namun bisa diminimalisasi menuju terhapus. Kuncinya hanya terletak pada ketegasan penegak hukum dari pengadil untuk memberikan efek jera, sehingga tidak terulang dan menular perbuatan korupsi dan penyuapan itu.”
“Ayo Mas Ben, biasanya banyak ide. Bagaimana Mas biar budaya korupsi dan menyuap bisa dihilangkan di negeri kita ?”
Mas Ben yang tengah asyik mengudap nogosari dan the manisnya tergagap mendapat operan pertanyaan dadakan dari Pak RT.
“Eh … ya, anu … begini. Sebenarnya tergantung niatnya saja koq. Andaikan saja para penegak hukum danpengadil itu mampu bersikap adil dan tegas pasti praktek korupsi dan penyuapan itu akan bisa diatasi.”
“Lha caranya bagaimana Mas Ben ? Potong Pak RT.
“Kita kan pernah mengetahui terhukum Jaksa Oerip divonis duapuluh tahun kurungan, sementara sangat banyak terhukum lainnya yang cukup divonis dua tahun kurungan saja. Mengapa tidak disamaratakan saja masa hukumannya, ya to ?”
“Atau dihukum mati saja seperti di China ya Mas Ben ?” kata si Jiyo.
“Tidak harus dihukum mati. Mematikan orang itu hak mutlaknya Tuhan lewat malaikat pencabut nyawaNya. Lagipula hukuman mati bisa menambah dosa, bila hukuman itu batal dilaksanakan. Bayangkan, vonis mati sudah dijatuhkan, namun karena Tuhan belum menggariskan batas ajalnya, belakangan si terhukum mendapat pengampunan remisi karena ada bukti baru yang mementahkan dakwaan kepadanya. Sementara orang di kita itu paling mudah digiring opininya, pasti langsung mencap buruk kepada seseorang karena opini publik, ditambah kekuatan media yang powerfull memberikan asumsi bersalah walau belum terbukti. Hukuman mati batal, sementara rasa dendam dan kebencian masih mengendap di dalam hati, belum bisa memaafkan dan menerima kenyataan. Kan dosa to itu namanya ?”
Tampaknya Mas Ben mampu menyihir warga yang berkumpul di rumah Pak RT dengan “khotbahnya” itu.
“Jadi, ndak usah memaksakan pemberlakukan hukum mati kepada para pelaku korupsi dan penyuapan, hukum saja dengan hukuman moral. Misalnya, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan jajarannya menerapkan kesetaraan hukum dengan membuat tabel bobot hukuman. Tidak ada hukuman maksimum, semua disamakan. Bila ada yang berani memvonis 20 tahun, ya jadikan itu sebagai patokan hukuman, tidak peduli besar-kecilnya uang yang dikorupsi.”
Mas Ben berhenti sejenak berkata-kata. Diraihnya gelasnya dan direguknya teh yang tersisa di dalamnya.
“Tidak cukup itu saja. Bila sudah berpangkat terdakwa langsung KTP nya dipembarui, diberikan kode keterangan koruptor. Dengan begitu apa mereka yang mau nyoba-nyoba korupsi atau kepingin ketagihan, masih mau berani korupsi ? Siapa yang mau namanya sudah diblacklist negara, dan diberi stempel koruptor di KTP-nya ? Sudah ndak bisa berkutik seumur hidup to ?
Bukan hanya kepada pelaku korupsi saja hukuman “pemberangusan nama” ini diberlakukan. Bagi aparat penerbit KTP atau kartu identitas lainnya yang berani coba-coba kongkalikong membuatkan kartu identitas palsu, juga harus diberikan beban hukum yang sama, walaupun dia cuma terima Rp. 150.000,00 saja.”
“Wah wah wah, berlean juga ya idenya Mas Ben.” Mbak Samto tertawa riang.
“Maaf saudara-saudara, tetapi ngomong – ngomong sudah siang nih Pak RT. Kerja baktinya sudah selesai to, ndak ada yang mau dilanjutkan lagi ?” Tanya Pak Mardi.
Pak RT melirik jam di atas pintu ruang tengahnya yang jarumnya sudah menunjuk ke angka satu siang, “Wah iya, tidak terasa yang Bapak-Bapak. Baiklah Bapak-Bapak yang masih ada keperluan boleh kalau mau pulang duluan. Yang masih betah juga boleh tinggal dulu menemani saya ngobrol.”
Para warga saling berpamitan, meninggalkan Mas Ben, Lik Promo dan Pak RT.
Demikianlah obrolan bergaya pinggiran warga itu diakhiri di sini, dengan harapan dapat memberikan input positif bagi negeri ini jika nanti diijinkan menjadi bagian dari buku yang sedang dirancangkan oleh Mas Joddie
Salam bentoelisan
Mas Ben

































![Bloggers Choice Awards [Logo]](http://farm4.static.flickr.com/3009/2808414095_ee4d1f07d1.jpg)






































pertamaxxxxxxxxxxx gan………………..
langsung meluncuur.. he.he.. maskasih mas atas partisipasinya.. ^^ salam blogger!
eh bang, banner ama linknya dipasang doonk.. ^^
ikutan ahhhh
segera ke TKP
Banyak yg bilang sih, kusak kusuk gugat korupsi di Indonesia itu gak ada guna, saking mengakarnya. Tapi kalau gak saling menguatkan, salah satu caranya dengan ngobrol ngalur ngidul gini, gimana mo semangat punya harapan korupsi bakal habis riwayatnya ya
ikutan ahhhh
segera ke TKP
wah, masalah politik saya gak begitu mengikuti, hehe, maklum gak ngemet, bikin mumet soalnya. hoho
hmmm…masalah korupsi di negeri ini memang seperti tidak ada habisnya..saya pribadi hanya bisa menangis atas perbuatan para koruptor yg biadab itu…semoga Allah memberikan azab kepada mereka para koruptor, amin..
salam, ^_^
Pimpinan RT di tempatnya mas Ben patut di contoh oleh pemimpin² negri ini, meskipun tidak di gaji namun tetap mengedepankan moral dan tanggung jawab demi kemajuan warganya..salut deh… *dari pada mikirin korupsi di Indonesia*
para koruptor SANGAT LAYAK di Hukum MATI…!!!!
hehehe..jadi semangat gini..
RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk
MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll
HADIIIIIIIIIIIRRRRRRRRR.. SUNGGUH SANGAT MIRIS KEHANCURAN YANG NYATA
siap melawan koruptor tapi belum siap makan duit koruptor takut sama Allah
setuju pak ^^
salam kenal…kunjungan pertamaxxxx
kunjungan balik mas ben… kulo nuwun.
saya langsung kesengsem dng cara bertuturnya. wis cocok tenan ulasane.
klo mau dicermati sejak dalam kandungan kita itu sdh kena pengaruh korupsi mskpn org tua kita bukan koruptor.
tp sistem di sekitar kehidupan kita lah yg penuh dengan alur korupsi, misalnya di rumah sakit/puskesmas. ibu2 yg mengandung bayi ketika melakukan pemeriksaan rutin, mestinya diberikan obat yang murah. bgmn harga obat bisa murah klo dlm pengadaannya dipenuhi dng manipulasi harga?
nanti ketika sang bayi lahir, utk mendapatkan akta kelahiran memerlukan biaya yg mahal, yg mestinya pemerintah bisa memberikan gratis kan? wis.. sistem korup ada hingga ajal menjelang
Mas Ben.. tolong belikan cermin kita semua, tataplah wajah dalam-dalam di sana, tak malukah begitu banyak dusta di antara tangan-kaki-mata-telinga dengan kata hati kita?
Semoga sukses lomba menulisnya mas…
Sebagai seorang warga negara indonesia yang mencintai tanah air dimana ia berpidjak dan dimana ia lahir untuk membangoen bangsanya, pasti kita tidak rela ada koroepsi di negara tertjinta ini maka dari itoe kita haroes lawan itu segala bentoek koreopsi! sebagai contoh koroepsi waktu (itu jang paling ketjil) MERDEKAAA!!!!
korupsi di Indonesia kyknya susah diberantas deh, mas..
abis hal itu sdh membudaya di mana2…hehehe
semoga menang lombanya ya, mas ben…….
btw, mas ben pindah rumah ke blog ini kah?
makasih udah mampir di blogkuw ya, mas……
korupsi di negri kita kok ga abis2 ya?!
salam kenal,
mau nimbrung, menurut saya tak cukup dengan penegak hukum yang tegas (karena saya tidak percaya penegak hukum), tetapi sebaiknya dimulai dari diri sendiri dan hal yang kecil-kecil..
salam kenal sobat
saya tunggu kunjungan baliknya
kami para binatang memprotes kalo kami disamakan dengan para koruptor…karena kami lebih mulia dari pada para koruptor yg menjijikan itu…
hehe..jadi inget neh..

Kadang-2 Bendol update blog via fasilitas kantor, berarti koruptor kecil-2an dong??
hehe…
Smoga sukses bro…
Salam
bagus tulisannya..
semoga penegakan hukum diindonesia lebih di perbaiki..
sukses kontesnya yah..
salam kenal..
ditunggu berkunjung balik loh mas
Stempel koruptor di KTP…??? Ide yang mantap kang…!!!
Ada celetuknya juga? Mantap!
Saya juga ikutan bikin artikel anti korupsi ini!
Oh ya, saya mau tanya, gimana caranya membuat avatar komentar seperti blog ini? Apa memang ini karena masalah template belaka?
pengen ikutan kontestnyaaa @_@
Aku sudah artikel, malah rencana lebih dari satu, dan sekarang baru dua :
1. http://celetukansegar.blogspot.com/2010/02/kisah-10-hari-terpidana-korupsi-yang.html
2. http://celetukansegar.blogspot.com/2010/02/bicara-korupsi-di-hari-valentine.html
Maksudnya avatar bisa tampil sebesar itu, gara-gara theme-nya atau apa?
Wah link-ku dipasang!
Tapi jangan dinamai Celetukangucap, ganti dengan Celetukan Segar saja!
Saya akan pasang link Anda!
Makasih!
O itu ternyata bawaan theme-nya!
Salam Brrrrr sahabat!
ikut kontes anti-korupsi juga ya bang?
waah postingannya menarik.
mangtabs gan!
Musnahkan Korupsi !!!
Selamat….Mas Ben dan salam kenaaal………….
@Mas Atmo : Halo, selamat datang di Bentoelisan. Terimakasih dan salam kenal
Wah judule blog mirip banget ik, kalau ounyae saya kan Mas Ben Berkata-kata hhehee
@@Mas Kristanto : Kabar baik Mas dari Bentoelisan. Kabarnya baik juga to, Mas Krist ?
@Mas Harsudi : Terimakasih Mas. Selamat datang di Bentoelisan, salam kenal pula
Salam bentoelisan
Mas Ben